Yayasan Ary Ginanjar Agustian dan ITB Bentuk Sekolah Tinggi Berkarakter
08/02/2012 14:09:00
Media di Tanah Air isinya tidak lepas dari pemberitaan kasus korupsi, penggelembungan dana, dan sekitar suap-menyuap. Ibarat sinetron, cerita pejabat yang tersandung korupsi tidak ada habisnya dan bersambung terus. Apa sesungguhnya yang terjadi pada bangsa ini dan apa yang salah dari ini semua? Bila ditelaah lebih jauh, mereka para pelaku adalah orang-orang yang memiliki intelektual (IQ) tinggi. Namun sayangnya, tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam mengemban amanah rakyat. Hal ini tidak lepas dari kurangnya penanaman pendidikan karakter di sekolah maupun perguruan tinggi.
Dalam rangka mencetak generasi muda yang cerdas intelektual serta memiliki karakter 7 Budi Utama (jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli), Yayasan Ary Ginanjar Agustian menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satu kerjasama yang akan dilakukan adalah pendampingan oleh Institut Teknologi Bandung dalam pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer (STIMIK) yang selanjutnya akan disebut sebagai ESQ Business School. ITB telah menunjuk School of Business and Management (SBM) ITB untuk pengembangan program studi Business Management serta Sekolah Teknik Elektro Informatika (STEI) ITB untuk pengembangan program studi Business Informatics.
Di sisi lain, ESQ Leadership Center akan membantu ITB dalam pembentukan karakter seluruh civitas akademika ITB melalui program yang mensinergikan intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Keseriusan kedua belah pihak ini dibubuhkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada Selasa (7/2/2012), di Gedung ITB, Bandung, Jawa Barat.
Usai melakukan tanda tangan dengan Rektor ITB Prof. Akhmaloka, Ph.D, DR (HC) Ary Ginanjar Agustian selaku pembina yayasan mengharapkan kerjasama ini dapat membuat langkah-langkah yang sangat berarti bagi Indonesia sehingga dapat menciptakan generasi high tech tetapi juga high touch (hati).
Dalam MoU ini ada tiga ikatan yang terkait secara intelektual, emosional, dan spiritual. Intelektual kita kerjasama dalam berbagai program, secara emosional saya merasa ITB bukanlah sesuatu yang asing karena tim kami juga banyak yang dari ITB, kemudian secara spiritual kita memahami spirit perjuangan di ITB,ucapnya.
Sebagai lembaga SDM yang konsen pendidikan karakter, ESQ memiliki misi Indonesia Emas 2020 yaitu bangsa Indonesia yang memiliki karakter dan mengaplikasikan 7 Budi Utama. Indonesia Emas 2020 juga bisa diartikan yaitu Indonesia yang jaya bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga jaya dalam moral dan spiritual.
Tentu dalam melaksanakan hal ini kita bekerjasama dengan berbagai lembaga, salah satunya kita masuk ke Akpol (Akademi Kepolisian) untuk mendidik Polisi muda. Kita masuk Kejaksaan, Kehakiman, Bea Cukai. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan generasi baru, generasi yang bermoral 7 Budi Utama,terangnya.
Terkait mengenai hal ini, Akhmaloka mengakui bahwa di dunia kampus memang lebih mengandalkan IQ ketimbang EQ dan SQ. Untuk itu, saat ini ITB juga tengah menekankan pendidikan karakter bagi para anak didiknya.
Saya yakin, kerjasama dengan ESQ ini kita bisa mencerahkan sisi lain dari teman-teman di Institut Teknologi Bandung. Jadi jika yayasan Ary Ginanjar berkerjasama dengan ITB, kita bisa share apa yang biasa kita lakukan di sini. Kita juga bisa dapat share hal-hal yang kering (EQ dan SQ red) dan saya kira itu akan baik,ujarnya.
Mantan Dekan FMIPA ITB itu menyatakan sekarang merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memasukkan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Terlebih Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menggalakkan pendidikan karakter bangsa.
Jadi bagaimana karakter generasi-generasi nanti tidak hanya memiliki kemampuan berpikir yang baik, tetapi juga punya karakter dan hal-hal yang yang baik. Saya yakin kerjasama ini bisa saling mengisi dan Insya Allah kita bisa membangun anak-anak Indonesia yang tidak hanya ahli di bidang sains dan teknologi, tetapi juga memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan karakter yang baik. Untuk itu saya berharap banyak agar kerjasama ini dapat terwujudkan bersama, imbuhnya.
Guru Besar ITB, Prof.Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat, M.Sc., Ph.D menyambut baik kerjasama dua lembaga yang memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Pria yang akrab disapa dengan Prof Naya mengatakan ini adalah suatu sinergi yang baik dan sangat dibutuhkan oleh masa depan Indonesia.
ESQ kan lebih ke masalah bagaimana membangun manusia yang mempunyai kecerdasan emosional dan spiritual, dia lebih ke touch-nya. Sedangkan ITB lebih banyak ke sains dan teknologi. Jadi kerjasama ini sesungguhnya mengkombinasikan atau menserasikan dua kecerdasan,ungkapnya.
Selain disaksikan oleh pendiri SBM ITB ini, penandatangan tersebut juga disaksikan oleh beberapa pimpinan ITB seperti Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni Prof.Dr.Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc, Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Organisasi Prof. Dr. Irawati, MS, Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen Prof.Dr.Ir. Sudarso Kaderi Wiryono, DEA, dan beberapa pengurus Yayasan Ary Ginanjar Agustian.
Penyatuan IQ, EQ, dan SQ sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan kita. Jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang miskin dengan emosional dan spiritual. Bangsa yang makmur adalah bukan hanya pintar intelektual, tetapi juga harus pintar emosional dan spiritual,imbuhnya. (jos/sym)

